PMOS: Istilah Baru untuk PCOS?

dr. Nabila
|
13 Mei 2026
PMOS: Istilah Baru untuk PCOS?

Kenapa Nama PCOS Mulai Berubah dan Apa Artinya?

Belakangan ini muncul istilah baru dalam dunia kesehatan perempuan, yaitu PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome). Istilah ini mulai diperkenalkan secara internasional sebagai pembaruan dari nama PCOS (Polycystic Ovary Syndrome). Perubahan ini diumumkan melalui konsensus internasional tahun 2026 yang dipublikasikan di jurnal medis The Lancet. Meski begitu, perubahan ini masih dalam tahap transisi global dan istilah PCOS masih umum digunakan, termasuk di Indonesia. Hingga saat ini juga belum ada pengumuman resmi dari POGI terkait penggunaan istilah PMOS sebagai pengganti PCOS di Indonesia.

Kenapa Nama PCOS Dianggap Kurang Tepat?

Selama ini banyak orang mengira PCOS berarti “ovarium penuh kista”. Padahal sebenarnya tidak sesederhana itu. Pada kondisi PCOS, yang terlihat di USG biasanya bukan kista ovarium sejati, melainkan folikel kecil yang tidak berkembang dengan baik. Karena itu, para ahli merasa istilah “polycystic ovary” bisa menimbulkan salah paham.

Selain itu, PCOS ternyata bukan hanya masalah ovarium atau kesuburan saja. Kondisi ini juga berhubungan dengan hormon, metabolisme tubuh, berat badan, gula darah, hingga kesehatan mental. Karena itulah para ahli merasa nama lama tidak lagi menggambarkan kondisi secara menyeluruh.

Apa Itu PMOS?

PMOS adalah singkatan dari:

  • Polyendocrine → melibatkan banyak sistem hormon dalam tubuh
  • Metabolic → berkaitan dengan metabolisme seperti resistensi insulin, obesitas, diabetes, dan kolesterol
  • Ovarian → tetap berhubungan dengan fungsi ovarium dan ovulasi
  • Syndrome → kumpulan gejala yang bisa berbeda pada setiap orang

Nama PMOS dipilih karena dianggap lebih menggambarkan kondisi sebenarnya, yaitu gangguan hormonal dan metabolik yang memengaruhi banyak sistem tubuh, bukan hanya ovarium.

Apa Saja Gejala yang Bisa Terjadi?

Gejala PMOS/PCOS bisa berbeda-beda pada setiap perempuan. Namun beberapa gejala yang sering muncul antara lain:

  • Haid tidak teratur,
  • Jerawat,
  • Rambut rontok atau menipis,
  • Tumbuh rambut berlebih di wajah atau tubuh,
  • Berat badan mudah naik atau sulit turun,
  • Resistensi insulin atau gula darah meningkat.

Selain gejala fisik, kondisi ini juga dapat memengaruhi kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan penurunan kualitas hidup. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, hingga gangguan tidur.

Karena itu, sekarang PCOS/PMOS dipahami sebagai kondisi kesehatan jangka panjang yang perlu ditangani secara menyeluruh.

Apakah Diagnosis dan Pengobatannya Berubah?

Meskipun istilah mulai berubah menjadi PMOS, cara diagnosis dan penanganannya saat ini masih sama seperti sebelumnya. Dokter masih menggunakan Rotterdam Criteria, yaitu diagnosis ditegakkan jika terdapat minimal dua dari tiga kondisi berikut:

  1. Gangguan ovulasi atau haid tidak teratur,
  2. Hormon androgen meningkat,
  3. Gambaran ovarium polikistik pada USG.

Jadi, yang berubah terutama adalah cara memahami dan menyebut kondisi ini, bukan berarti penyakitnya menjadi berbeda.

Bagaimana Proses Perubahan Nama Ini?

Perubahan nama ini bukan keputusan mendadak. Para ahli menjelaskan bahwa diskusi mengenai nama PCOS sebenarnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Dalam proses konsensus internasional tahun 2026, lebih dari 14 ribu responden dari berbagai negara ikut terlibat, termasuk pasien dan tenaga kesehatan.

Mereka mempertimbangkan banyak hal seperti:

  • Keakuratan ilmiah,
  • Kemudahan dipahami masyarakat,
  • Pengurangan stigma, dan
  • Bagaimana istilah ini digunakan di berbagai budaya serta negara.

Akhirnya dipilihlah istilah PMOS karena dianggap paling mewakili kondisi sebenarnya.

Apakah PMOS Sudah Resmi Digunakan di Indonesia?

Saat ini istilah PMOS masih berada dalam tahap transisi global. Konsensus internasional menyebutkan bahwa integrasi istilah ini ke guideline internasional direncanakan pada pembaruan guideline tahun 2028.

Di Indonesia sendiri, istilah PCOS masih lebih umum digunakan dalam praktik sehari-hari, pendidikan, maupun penelitian. Sampai sekarang juga belum ada pengumuman resmi dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mengenai adopsi PMOS secara formal.

Kesimpulan

Perubahan nama dari PCOS menjadi PMOS dilakukan karena para ahli ingin menggambarkan kondisi ini secara lebih akurat. Kondisi ini ternyata bukan hanya soal “kista ovarium”, tetapi juga berkaitan dengan hormon, metabolisme, reproduksi, dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Meski istilah PMOS mulai diperkenalkan secara internasional, penggunaan istilah PCOS masih tetap umum digunakan hingga saat ini, termasuk di Indonesia.

Referensi:

  1. Teede HJ, Bahri Khomami M, Morman R, Laven JSE, Joham AE, Costello MF, et al. Polyendocrine metabolic ovarian syndrome, the new name for polycystic ovary syndrome: a multistep global consensus process. The Lancet. 2026 May 12. doi:10.1016/S0140-6736(26)00717-8.
  2. Teede HJ, Tay CT, Laven JJE, Dokras A, Moran LJ, Piltonen TT, et al. Recommendations from the 2023 international evidence-based guideline for the assessment and management of polycystic ovary syndrome. European Journal of Endocrinology. 2023;189(2):G43–G64. doi:10.1093/ejendo/lvad069.
  3. Stener-Victorin E, Teede H, Norman RJ, Legro RS, Franks S, Wild RA, et al. Polycystic ovary syndrome. Nature Reviews Disease Primers. 2024;10(1):27. doi:10.1038/s41572-024-00483-0.
  4. Norman RJ, Morman R, Teede HJ. “Tis but thy name that is my enemy”—the problem with the naming of polycystic ovary syndrome. Fertility and Sterility. 2023;120(2):249–250. doi:10.1016/j.fertnstert.2023.05.001.
  5. Teede HJ, Moran LJ, Morman R, Joham AE, Dokras A, Laven JSE, et al. Polycystic ovary syndrome perspectives from patients and health professionals on clinical features, current name, and renaming: a longitudinal international online survey. EClinicalMedicine. 2025;84:103287. doi:10.1016/j.eclinm.2025.103287.
  6. National Institutes of Health. Evidence-based methodology workshop on polycystic ovary syndrome: executive summary. Bethesda: NIH Office of Disease Prevention; 2012 [cited 2026 May 13]. Available from: https://prevention.nih.gov/sites/default/files/2018-06/FinalReport.pdf
  7. Azziz R. Polycystic ovary syndrome: what’s in a name? Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. 2014;99(4):1142–1145. doi:10.1210/jc.2013-4026.
  8. Dunaif A, Fauser BCJM. Renaming PCOS—a two-state solution. Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. 2013;98(11):4325–4328. doi:10.1210/jc.2013-2045.
  9. Piltonen T, Kuusiniemi E, Teede HJ. Ovarian cysts in polycystic ovary syndrome. JAMA Internal Medicine. 2026 May 11. doi:10.1001/jamainternmed.2026.1370.
  10. Society for Endocrinology. PMOS is the new name for PCOS [Internet]. 2026 May 12 [cited 2026 May 13]. Available from: https://www.endocrinology.org/news/article/23445/polyendocrine-metabolic-ovarian-syndrome-pmos-is-the-new-name-for-pcos
  11. Contemporary OB/GYN. Global consensus renames PCOS to PMOS [Internet]. 2026 May 12 [cited 2026 May 13]. Available from: https://www.contemporaryobgyn.net/view/global-consensus-renames-pcos-to-polyendocrine-metabolic-ovarian-syndrome-pmos-
  12. Gibson-Helm M, Teede H, Dunaif A, Dokras A. Delayed diagnosis and a lack of information associated with dissatisfaction in women with polycystic ovary syndrome. Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. 2017;102(2):604–612. doi:10.1210/jc.2016-2963.

Demikian informasi ini kami sampaikan. Tetap jaga kesehatan Anda dan keluarga bersama Klinik Pertamina IHC.